Saturday, May 7, 2011

Tindakan Kita Sebatas Kita Memandang Dunia

Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan tindakan anda pun jadi kerdil. Namun, bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.

Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan, dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.

by: Ir. Andi Muzaki, SH, MT
Read More... »

Friday, April 29, 2011

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tampa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak Tua itu.

"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".

"Segar", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberi nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampungn segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah itu laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

by: Ir. Andi Muzaki, SH, MT.
Read More... »

Thursday, April 28, 2011

Bagaimana Anda Mampu Kuat Bekerja

Bagaimana seseorang tahan berjam-jam bekerja seolah tak mengenal lelah? Apa pula rahasia pekerja rig lepas pantai yang meninggalkan anak istri bertarung dengan angin dan badai? Bagaimana juga dengan para petani, nelayan, kuli, sopir angkutan, pekerja berat yang tahan membanting tulang di tengah terik panas atau dingin malam? Kekuatan apa yang mendorong mereka begitu kuat secara fisik dan tangguh secara mental? Sedangkan di sudut sempit yang lain, banyak orang mengeluh karena persoalan yang tak lebih besar dari ujung kuku.

Kekuatan itu bernama cinta. Cinta yang melahirkan harapan dan pengabdian bagi kepada siapakah mereka mempersembahkan hasil kerja mereka, kepada keluarga nun jauh di sana, kepada masyarakat banyak yang membutuhkan karya mereka, kepada alam yang mengasuh mereka, kepada masa depan kehidupan yang sejahtera, atau kepada hati tempat cinta itu mengalir.

Bila Anda berkeluh kesah hanya karena harus memperpanjang waktu kerja Anda beberapa jam saja, maka kenanglah punggung bungkuk seorang kakek yang menarik sampak kota ini. Beliau memiliki sesuatu yang ia cintai, yang kepadanya ia ulurkan kerja. Kepada beliau kita belajar tentang pengabdian atas nama cinta.

by: Ir. Andi Muzaki, SH, MT.
Read More... »

Thursday, April 21, 2011

Belajar Seumur Hidup

Bila Anda menganggap bahwa Anda sudah tak mampu lagi belajar selepas meraih ijazah sekolah, maka Anda salah. Dunia sedang berjalan semakin cepat. Manusia bekerja semakin baik. Persoalan yang muncul semakin rumit. Anda memerlukan berbagai keterampilan yang Baru. Bukan hanya sebagai alat untuk meraih kemajuan, namun untuk berada di suatu tempat, Anda dituntut untuk tahu bagaimana menjaga posisi. Karena itu, jangan berhenti belajar.

Pelajarilah hal-hal baru dengan penuh antusias. Belajar berarti membuka diri Anda pada dunia yang maha luas ini. Belajar mengingatkan, sesungguhnya Anda tak mungkin tahu semua jawaban. Belajar mengajarkan pelajaran terpenting dalam hidup, yaitu kerendahan hati untuk bertanya.

Memang benar, sarang burung manyar tak mengalami perubahan sejak berabad-abad lalu, mungkin hingga berabad-abad ke depan. Juga benar, ikan salmon mungkin takkan mengubah perjalanannya ke sungai air tawar untuk meletakkan telur-telur mereka.

Namun, kehidupan manusia selalu berubah. Bukan hanya dari tahun ke tahun, atau dari bulan ke bulan, tetapi dari hari ke hari. Manusia akan menemukan cara-cara terbaik bagi hidup mereka. Rahasia alam ini terlalu maha besar untuk dimengerti dalam seumur hidup yang fana ini. Anda tidah harus mengetahui semua jawaban, namun Anda harus berusaha tahu apa yang terbaik bagi hidup Anda. Untuk itu Anda harus belajar, seumur hidup Anda.

by: Ir. Andi Muzaki, SH, MT.
Read More... »

Tuesday, April 19, 2011

Orang-Orang Penting

Istilah orang penting terlalu sering digambarkan dengan politisi yang berkuasa, bos konglomerat, atlet berprestasi, artis ternama, atau semua yang kita golongkan selebritis.

Kenyataannya, setiap orang adalah penting. Setiap kehidupan adalah penting. Tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Anda sama pentingnya dengan wajah-wajah yang bermunculan di layar TV atau sampul majalah. Demikian juga pentingnya orang-orang di sekitar Anda.

Setiap orang memiliki sesuatu yang bisa disumbangkan pada kehidupan. Setiap orang bisa membuat perbedaan bernilai positif. Setiap orang memiliki hal yang khas di dunia ini. Dan setiap orang memerlukan hidupnya semakin bernilai. Itu yang membuat setiap orang menjadi penting.

Tentu ada orang yang berhasil menjadi sumber inspirasi orang lain, yang mampu memimpin orang lain. Mereka juga tidak lebih penting dari orang lain. Tetapi mereka melakukan itu karena dimulai dengan kesadaran bahwa hidup mereka penting, dan menjadi lebih penting lagi saat mereka memerlukan orang lain.

Orang-orang penting ada di sekitar Anda. Mereka memiliki potensi luar biasa, sama seperti Anda. Kenali dan hargai potensi yang ada pada mereka, dan diri Anda. Sertai dengan tindak lanjut. Jadikan mereka orang penting, dan Anda pun akan dianggap orang penting.

by: Ir. Andi Muzaki, SH, MT.
Read More... »

Monday, April 18, 2011

Singkirkan Ketakutan

Jalan keberhasilan ini adalah milik Anda. Pada saat Anda menyadari bahwa Anda bertanggung jawab penuh atas segala sesuatunya, dan Anda tidak menemukan alasan apapun untuk menyalahkan orang lain, di saat itulah Anda menemukan jalan Anda sendiri. Di saat itulah Anda menyadari kebebasan dan hilangnya ketakutan. Hanya Anda yang mampu memikul hidup Anda, bukan orang lain.

Bila Anda menganggap hidup adalah suatu tugas, tunaikanlah. Bila Anda menganggap hidup adalah beban, pikullah. Bila Anda menganggap hidup adalah harta karun yang tak terhingga, berbagilah. Kerjakan yang terbaik dari diri Anda. Tujuan hidup akan Anda temukan di saat Anda menjalani perjalanan Anda. Dan yang terpenting, Anda tidak akan menemukan apa-apa bila tidak melakukan sesuatu.

by: Ir. Andi Muzaki, SH, MT.
Read More... »

Wednesday, April 13, 2011

Diri Sendiri

Seorang pria berpakaian lusuh pada suatu hari menemui motivator terkenal, Napoleon Hill. Sebelumnya pria lusuh ini adalah seorang pengusaha restoran yang berhasil, tapi kemudian usahanya bangkrut. Pria ini sangat membutuhkan pertolongan Hill. Napoleon Hill menatap pria ini dan lalu memintanya untuk berdiri di depan sebuah tirai. Hill berkata, "Sebentar lagi, saya akan memperkenalkanmu dengan satu-satunya orang di dunia yang mampu menolongmu dari putus asa."

Pria ini menunggu berdebar-debar, dan Hill lalu menarik tirai dan terlihatlah sebuah cermin setinggi tubuh pria itu dan ia ada di dalam cermin. Si pria lalu memandang cermin selama beberapa menit, membisu, dan kemudian meninggalkan Hill dengan ucapan terima kasih.

Beberapa bulan kemudian pria ini datang lagi, namun keadaannya sungguh jauh berbeda. Rasa percaya dirinya telah bangkit, ia pun telah memperoleh kembali keyakinannya akan keahliannya berbisnis, keyakinan yang membuatnya menjadi pengusaha sukses lagi. Memang, tak ada yang lebih mampu menolong kita selain diri kita sendiri.
Read More... »

Tuesday, April 12, 2011

Yang Berhasil Hanya 2 Persen

Motivator tingkat dunia, Napoleon Hill, mengambil kesimpulan bahwa kesuksesan hanya menjadi milik 2% mereka yang gigih mengusahakannya. Kesimpulan ini ia tarik setelah mengamati banyak orang dalam waktu yang lama. Inilah ENAM LANGKAH SUKSES dari Napoleon Hill.
  1. Kebanyakan orang menjalani kehidupan dipenuhi dengan angan-angan dalam banyak hal. Angan-angan ini lalu berlalu begitu saja seperti angin, dan jelas tidak punya kekuatan apa-apa. Jumlah orang yang seperti ini ada 70%.
  2. Ada sebagian kecil yang mengembangkan angan-angan mereka menjadi keinginan yang terus-menerus, namun hanya sampai situlah komitmen mereka. Jumlah kelompok ini sekitar 10%.
  3. Persentase yang lebih kecil lagi mengembangkan angan-angan dan keinginannya menjadi harapan. Mereka berani membayangkan dari waktu ke waktu bahwa mereka mungkin akan mendapatkan apa yang mereka cari. Jumlah mereka berkisar 8%.
  4. Kelompok yang lebih kecil lagi menjabarkan harapan itu menjadi kepercayaan. Mereka mengharapkan apa yang mereka inginkan benar-benar akan terjadi. Jumlah mereka ada 6%.
  5. Kelompok yang lebih kecil lagi mengkristalkan angan-angan, keinginan, dan harapan mereka menjadi kepercayaan, dan lalu menjadi hasrat yang menyala-nyala, dan akhirnya menjadi keyakinan. Jumlah mereka 4%.
  6. Akhirnya hanya segelintir yang mengambil dua langkah terakhir, yaitu membuat rencana untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan kemudian melaksanakan rencana itu. Mereka melakukannya dengan sikap mental positif. Jumlah mereka hanya sekitar 2%.

Napoleon Hill's Keys to Success
Read More... »

Monday, April 11, 2011

Belajar dari Mereka yang "Tuli"

Andai mereka saat itu tidak berlaku tuli dan mengikuti komentar orang lain…………………..

“Kamu tidak akan kemana-mana nak. Kamu akan kembali menyupir truk.” (Jim Denny, Grand Ole Opry, menolak Elvis Presley setelah penampilan pertamanya.)

“Tapi, apa bagusnya?” (Insinyur di Advanced Computing Systems Division of IBM, mengomentari penemuan micro chip, tahun 1968)

“Telepon, tidak bisa dipertimbangkan sebagai alat komunikasi. Alat ini tidak ada nilainya bagi kita.” (Memo rapat di Western Union, tahun 1876.)

“Kotak musik tanpa kabel, tidak ada bayangan tentang nilai komersilnya. Siapa yang mau bayar untuk pesan yang dikirim tak jelas kepada siapa?” (Rekan David Sarnoff mengomentari niatnya untuk berinvestasi di bisnis radio, tahun 1920-an.)

“Kami tidak suka suaranya. Lagipula musik dengan gitar akan segera berakhir” (Decca Recording Company menolak The Beatles, tahun 1962)

“Mesin terbang yang lebih ringan dari udara, itu mustahil.” (Lord Kelvin, presiden Royal Society, melecehkan wacana manusia bisa terbang, tahun 1895)

“Mengebor untuk minyak? Maksudmu mengebor ke dalam tanah dan mencoba untuk menemukan minyak? Gila kamu.” (Ahli bor yang diminta Edwin L Drake untuk menjalankan proyek pengeboran minyak yang pertama, tahun 1859)

“Pesawat udara itu mainan yang bagus, tapi tidak ada gunanya untuk militer”. (Marsekal Ferdinand Foch, profesor strategi militer, sebelum pesawat tempur diciptakan.)

Ah, untungnya mereka yang dihujani perkataan seperti itu berlaku tuli……..
Komentator tetaplah komentator….apapun kata mereka…. tetap kitalah yang bermain di lapangan.
Read More... »

Gajah dan Kutu Loncat

Ada seekor gajah. Gajah ini ditangkap dan dibelenggu keempat kakinya dengan rantai yang terbuat dari besi. Saban hari, gajah tadi berusaha melarikan diri. Namun setiap kali dia melompat, dirinya selalu terjatuh. Ini selalu terjadi berulang-ulang.

Sebulan kemudian, rantai besi itu dilepas. Gajah tetap diikat keempat kakinya. Namun kali ini cuma dengan tali rafia yang tipis.

Menurut anda apakah kali ini gajah bisa melarikan diri?

Sayangnya perkiraan anda meleset. Ternyata gajah tadi tetap melompat dan tetap terjatuh seperti semula.

Hei, apa yang terjadi? Bukankah gajah semestinya mampu-mampu saja dengan kekuatannya memutus tali rafia tersebut?

Ternyata waktu sebulan telah membuat otak gajah membuat sketsa bahwa dirinya tidak akan mampu melarikan diri. Dalam sketsa pikirannya dirinya masih dirantai dengan rantai yang kuat.

Izinkan saya melanjutkan dengan kisah yang kedua. Percobaan yang hampir mirip dilakukan terhadap seekor kutu loncat. Kutu loncat ini, sebelum dia ditangkap konon mampu melompat setinggi puluhan sentimeter sampai bahkan ratusan senti. Kutu loncat tadi senasib dengan gajah. Dirinya juga ditangkap dan dikurung di dalam kotak korek api. Selama sebulan dirinya dibiarkan hidup di dalam kotak korek api. Pada bulan berikutnya, kutu loncat kembali dibebaskan. Tebak, apa yang terjadi?

Menarik, kali ini si kutu loncat hanya bisa melompat setinggi 1 cm, setinggi kotak korek api. Perhatikan, waktu sebulan telah menjadikan dia melupakan potensi besar yang sebelumnya dimilikinya….

Sadar atau tidak sesungguhnya dalam kehidupan, seringkali kita juga berada dalam kondisi yang serupa. Kita, dalam sketsa pikiran kita terperangkap dalam kotak korek api buatan kita sendiri. Kita, terbelenggu dalam bayangan rantai yang menggelayuti sketsa pikiran kita.

Kita, tanpa sadar telah membelenggu diri kita sendiri dengan rantai-rantai maya. Rantai-rantai itu membuat kita gagal untuk maju.

Rantai itu, kadang bernamakan alasan hambatan usia, kadang berwujud alasan pendidikan, kadang pula bertemakan kesehatan, atau malah alasan nasib. Layaknya pengalaman sang gajah di atas, dalam sketsa pikiran kita juga terbentuk gambaran bahwa kita akan tetap terbelenggu dan mustahil melepaskan diri dari jeratannya.Padahal, semua hanyalah rantai maya yang begitu rapuh.

Kita namakan rantai-rantai ini sebagai faktor penghambat internal. Semuanya berasal dari diri kita.. Dan ingatkah anda apa yang telah kita pelajari di atas? Bahwa: kita adalah pengendali atas kehidupan kita sendiri. Maka yang mampu memutuskan rantai-rantai itu hanyalah diri kita sendiri.

Laksana kutu loncat, sebenarnya kita memiliki kemampuan yang sungguh luar biasa. Kita mampu melompat tinggi. Namun dikarenakan suatu hal kita terkurung dalam kotak korek api yang sempit. Akibatnya, kita hanya mampu melompat rendah.

Faktor eksternal atau faktor lingkungan. Inilah kotak korek api yang memenjarakan kita. Tanpa kita sadari lingkungan kita telah memenjarakan potensi kita. Kita, sebenarnya tercipta dengan potensi yang luar biasa. Kini semuanya tergantung anda. Kita adalah pengendali kehidupan kita. Maju atau tidak kehidupan kita, kendali ada di tangan kita Jadi sejak sekarang lepaskan semua belenggu rantai yang bergelayut di diri anda…. berlarilah sekencangnya…. buang kotak korek api yang memenjarakan anda….. lalu melompatlah setinggi-tingginya!
Read More... »

Sunday, April 10, 2011

Yang Paling Bertanggung Jawab

Kalau Anda ingin menyalahkan orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Anda dalam hidup, maka Anda bisa mulai dengan menyalahkan diri sendiri. Mengapa demikian?

Karena Anda sendiri yang mengambil keputusan untuk gagal. Bukan atasan Anda yang galak, bukan anak buah Anda yang susah diatur, bukan istri Anda yang tidak sejalan, bukan suami Anda yang tidak pengertian, bukan teman di kantor yang menggosipkan Anda, tetapi Anda sendiri yang memutuskan dan mengambil keputusan dengan penuh kesadaran, untuk gagal.

Seorang pesenam dari Jepang meraih medali emas impiannya setelah menari dengan indah di Olympiade. Padahal hari sebelumnya, tumitnya retak dan dokter mengatakan dia akan cacat seumur hidupnya. Rasa sakit dikalahkan oleh kemauan yang kuat untuk mempersembahkan medali emas bagi negaranya.

Sepasang mahasiswa drop-out memulai sebuah perusahaan software kecil-kecilan yang sama sekali tidak diperhitungkan akan menjadi besar. Kini Bill Gates dan Tim Allen merupakan dua orang legenda software dunia, padahal hanya berijazahkan high school (SMA).

Seorang veteran perang dunia pertama menawarkan resep masakan keluarganya kepada lebih dari seribu orang yang dinilainya dapat memberinya modal usaha mengembangkan restoran. Mereka menolaknya. Tetapi ia tidak menyerah. Bayangkan bila saat itu Kolonel Sanders memutuskan berhenti pada penolakan yang ke 999, hari ini kita tidak akan mengenal Kentucky Fried Chicken.

Ketika percobaan lampunya yang ke-sekian ratus gagal, Thomas Alfa Edison berkata pada seorang wartawan, "Saya tidak gagal! Bahkan saya baru saja berhasil menemukan cara ke 879 untuk tidak membuat lampu!" Pantang menyerah.

Sukses Anda bukan nasib. Sukses adalah sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan harta, keringat, air mata, dan kadang juga darah. Pada prinsipnya, tidak ada orang yang gagal. Yang ada hanya orang yang "memutuskan untuk berhenti" sebelum mencapai sukses.

submitted by: Rizki Herucakra
Read More... »

Saturday, April 9, 2011

Tak Sesulit yang Anda Bayangkan

Di sebuah ladang terdapat sebongkah batu yang amat besar. Dan seorang petani tua selama bertahun-tahun membajak tanah yang ada di sekeliling batu besar itu. Sudah cukup banyak mata bajak yang pecah gara-gara membajak di sekitar batu itu. Padi-padi yang ditanam di sekitar batu itu pun tumbuh tidak baik.

Hari ini mata bajaknya pecah lagi. Ia lalu memikirkan bahwa semua kesulitan yang dialaminya disebabkan oleh batu besar ini. Lalu ia memutuskan untuk melakukan sesuatu pada batu itu.

Lalu ia mengambil linggis dan mulai menggali lubang di bawah batu. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa batu itu hanya setebal 6 inchi saja. Sebenarnya batu itu bisa dengan mudah dipecahkan dengan palu biasa. Kemudian ia lalu menghancurkan batu itu sambil tersenyum gembira. Ia teringat bahwa semua kesulitan yang dialaminya selama bertahun-tahun oleh batu itu, ternyata bisa diatasi dengan mudah dan cepat.
Read More... »

Thursday, March 31, 2011

Sang Juara

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang, dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark, mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya.

Namun, sesaat kemudian Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang tertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian ia berkata, "Ya, aku siap!".

Dor!! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo.. ayo.. cepat.. cepat.., maju.. maju..", begitu teriakan mereka. Ahha.. sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih".

Saat pembagian piala tiba, Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?". Mark terdiam. "Bukan Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. Aku hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis jika aku kalah." semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.
Read More... »

Tuesday, March 29, 2011

Kebiasaan Yang Diulang

Di Tiongkok pada zaman dahulu kala, hidup seorang panglima perang yang terkenal karena memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya. Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada rakyat. Lalu diperintahkan kepada prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran serta 100 buah anak panah.

Setelah semuanya siap, kemudian Sang Panglima memasuki lapangan dengan penuh percaya diri, lengkap dengan perangkat memanah di tangannya. Panglima mulai menarik busur dan melepas satu persatu anak panah itu ke arah sasaran. Rakyat bersorak sorai menyaksikan kehebatan anak panah yang melesat! Sungguh luar biasa! Seratus kali anak panah dilepas, 100 anak panah tepat mengenai sasaran.

Dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan, panglima berucap, "Rakyatku, lihatlah panglimamu! Saat ini, keahlian memanahku tidak ada tandingannya. Bagaimana pendapat kalian? Di antara kata-kata pujian yang diucapkan oleh banyak orang, tiba-tiba seorang tua penjual minyak menyelutuk, "Panglima memang hebat ! Tetapi, itu hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih."

Sontak panglima dan seluruh yang hadir memandang dengan tercengang dan bertanya-tanya, apa maksud perkataan orang tua penjual minyak itu. Tukang minyak menjawab, "Tunggu sebentar!" Sambil beranjak dari tempatnya, dia mengambil sebuah uang koin Tiongkok kuno yang berlubang di tengahnya. Koin itu diletakkan di atas mulut botol guci minyak yang kosong. Dengan penuh keyakinan, si penjual minyak mengambil gayung penuh berisi minyak, dan kemudian menuangkan dari atas melalui lubang kecil di tengah koin tadi sampai botol guci terisi penuh. Hebatnya, tidak ada setetes pun minyak yang mengenai permukaan koin tersebut!

Panglima dan rakyat tercengang. Merela bersorak sorai menyaksikan demonstrasi keahlian si penjual minyak. Dengan penuh kerendahan hati, tukang minyak membungkukkan badan menghormat di hadapan panglima sambil mengucapkan kalimat bijaknya, "Itu hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih! Kebiasaan yang diulang terus menerus akan melahirkan keahlian."

>> andriewongso.com <<
Read More... »

Saturday, March 26, 2011

Berhektar-Hektar Berlian

Seorang petani tiba-tiba menjadi penuh semangat dan sangat terpesona ketika seorang pemuka agama singgah di rumah pertaniannya. Pemuka agama ini menceritakan bahwa di benua Afrika terdapat ladang intan yang telah merubah nasib banyak orang sehingga mereka menjadi orang-orang kaya.

Tanpa berpikir panjang, petani ini lalu menjual ladangnya kepada petani lain. Dari uang hasil penjualannya ini, ia membentuk satu kelompok untuk berangkat ke Afrika. Tujuannya adalah menemukan tambang intan agar ia bisa meraih kehidupan dengan kekayaan yang luar biasa.
Bertahun-tahun ia mencari intan di Afrika, namun tetapi tidak ditemukannya. Akhirnya uangnya habis, rombongannya pun meninggalkannya. Dalam keadaan sendirian dan putus asa, ia terjun ke laut dan mati terbenam.

Sementara itu, petani yang membeli ladangnya sedang memberi minum keledai di air yang mengalir di ladang. Petani ini menemukan sebongkah batu aneh yang memancarkan cahaya. Petani ini membawa batu itu pulang dan menyimpannya selama berbulan-bulan.

Suatu hari pemuka agama itu datang lagi berkunjung. Dia sangat terkejut melihat batu yang ditemukan petani ini. "Ini adalah intan yang nilainya sangat mahal," kata pemuka agama itu. "Di mana kamu menemukannya?" Petani itu lalu membawa si pemuka agama ke ladangnya dan berkeliling di sana. Saat itulah mereka menemukan satu intan lagi, lagi, lagi, dan lagi. Ternyata ladang yang ditinggalkan petani pertama adalah ladang intan yang tak terkira nilainya.

Moral cerita ini adalah, ladang intan Anda mungkin terletak tepat di bawah kaki Anda. Yang Anda perlukan adalah mengenali dan kemudian menggosoknya hingga berkilau.
Read More... »
 
Designed by Productive Dreams
Copyright© [ z3r0 phr34k ]