Thursday, June 2, 2011

Ingin Hidup Lebih Lama? Carilah Teman Kerja yang Cocok


REPUBLIKA.CO.ID, NEW York - Memiliki teman yang memberi dukungan bukan hanya membuat pekerjaan jadi lebih mudah, tapi juga membantu orang hidup lebih lama, demikian hasil satu studi baru.

Beberapa peneliti mendapati hubungan baik dengan rekan kerja memiliki dampak pada risiko kematian bagi banyak orang dan paling berpengaruh antara usia 38 dan 43 tahun.

"Dukungan sosial rekan sebaya, yang dapat menunjukkan seberapa baik seseorang memiliki hubungan sosial di dalam konteks pekerjaannya, adalah penunjuk penting mengenai risiko semua penyebab kematian," kata beberapa peneliti di dalam studi yang disiarkan di jurnal Health Psychology, yang diterbitkan oleh American Psychological Association.

Dr Arie Shirom dan timnya mempelajari catatan medis lebih dari 800 pekerja yang telah diikuti perkembangan mereka selama 20 tahun, dari 1988 sampai 2008, dan daftar pertanyaan yang mengukur tuntutan pekerjaan, kendali kerja dan dukungan rekan sebaya serta penyelia.

Meskipun menyatakan bahwa bos adalah topik pekerjaan favorit, studi tersebut memperlihatkan bahwa memiliki penyelia yang memberi dukungan tak memiliki dampak pada masalah kematian.

Para peneliti itu juga mendapati perbedaan mencolok antargender dalam masalah dampak memiliki kendali dan wewenang pengambilan keputusan di tempat kerja. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kematian pada perempuan di dalam studi itu, tapi memiliki dampak perlindungan bagi pria.

Wewenang pengambilan keputusan dilandasi atas pekerja yang mampu memanfaatkan gagasan mereka, memiliki masukan tentang cara memanfaatkan keterampilan mereka dan kebebasan untuk membuat keputusan guna menyelesaikan tugas.

Shirom menjelaskan semua temuan itu dan mengatakan kebanyakan orang di dalam studi tersebut memiliki pekerjaan kantoran. Dalam kondisi itu, pria memiliki tingkat kendali tinggi dan perempuan tidak.

Sepertiga orang di dalam studi tersebut adalah perempuan. Rata-rata hari kerja adalah 8,8 jam. Sembilan-puluh persen orang yang ditanyai sudah menikah, dan hampir separuhnya telah menjalani pendidikan sedikitnya selama 12 tahun.

Para peneliti juga mengukur faktor risiko lain yang dapat berdampak pada kematian seperti tingkat kolesterol, tekanan darah, merokok, minum dan tingkat kecemasan.

>> yahoo.com <<
Read More... »

Monday, May 30, 2011

Tips Sebelum Wawancara Kerja

Metrotvnews.com, Jakarta: Setiap pelamar kerja tentu ingin berhasil menaklukan proses wawancara dan mendapatkan pekerjaan idamannya. Selain persiapan awal seperti CV dan berlatih, ada sejumlah ritual penting yang sebaiknya tidak Anda lewatkan sebelum wawancara.

Persiapkan kebutuhan wawancara Anda sejak jauh-jauh hari, seperti setelan formal, sepatu, dan sebagainya agar tampil prima di hari yagn menentukan itu. Selain itu, simak sejumlah persiapan berikut ini seperti dikutip situs askmen.com:
  1. Rapikan rambut
  2. Luangkan waktu ke salon untuk memangkas atau sekadar merapikan rambut. Bagaimana pun, penampilan fisik merupakan hal pertama yang akan dinilai pewawancara ketika bertemu Anda. Pergi ke salon sepekan sebelum hari wawancara, menyisakan cukup waktu bagi Anda untuk mengubah model rambut jika tidak menyukai model sebelumnya.

  3. Cek transportasi
  4. Sehari sebelum wawancara, lakukan pengecekan jalur dan pilihan transportasi terbaik menuju tempat wawancara. Jangan lupa menghitung waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di tempat tujuan, agar dapat memprediksikan lama perjalanan di keesokan harinya.

    Jika mungkin, cobalah berangkat tepat pada waktu yang sama dengan yang Anda rencanakan untuk pergi keesokan harinya. Dengan demikian, Anda bisa turut memperhitungkan faktor-faktor penghambat seperti kondisi lalu lintas dan ketersediaan transportasi umum. Jika Anda mengendarai kendaraan pribadi, pastikan untuk mengisih penuh bahan bakar dalam perjalanan pulang.

  5. Latihan terakhir
  6. Luangkan waktu pada malam sebelum wawancara untuk berlatih di depan cermin. Baca poin-poin penting percakapan Anda, dan praktikkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan. Perhatikan nada suara dan bahasa tubuh Anda. Pastikan untuk mempertahankan kontak mata dengan pewawancara.

  7. Siapkan busana
  8. Putuskan setelan apa yang akan Anda kenakan untuk wawancara satu hari sebelumnya. Pikirkan karakteristik perusahaan yang Anda lamar, dan seperti apa dress code mereka. Jika Anda sudah pernah berkunjung ke kantor tersebut sebelumnya, ingat-ingat bagaimana cara berbusana para karyawannya. Sesuaikan busana yang akan Anda kenakan di hari wawancara, dengan gaya berbusana di perusahaan itu.

  9. Jernihkan pikiran
  10. Stres memikirkan wawancara kerja hanya akan menghabiskan energi Anda. Lebih baik, manfaatkan waktu yang tersisa pada keesokan paginya untuk menikmati sarapan sehat bersama teman, atau berlatih ringan di pusat kebugaran (jika sempat). Lakukan kegiatan yang mampu membuat Anda rileks dan tidak tegang, sampai tiba waktu yang ditentukan untuk wawancara.
>> yahoo.com <<
Read More... »

Wednesday, May 25, 2011

Tips Cerdik Mengatasi Malas Berangkat Kantor

Membayangkan seharian bekerja kok malas betul ya? Sialnya, mau tidak mau Anda harus ngantor. Ada saatnya Anda ingin bisa terbebas dari kantor satu hari saja. Berhubungan dengan hal yang sama terus menerus memang bikin bosan. Menurut para psikolog dan ahli manajemen, hal ini wajar terjadi. Namun Anda tidak disrankan membiarkan rasa ini hingga terlalu lama. Bagaiamana menyiasatinya? Berikut ini tips cerdik mengatasimalas berangkat kantor:
  1. Buat Rencana. Rasa malas biasanya datang saat terbangun di pagi hari. Membayangkan rutinitas memang bikin malas. Oke, pikirkan sesuatu. Bagaimana kalau nanti siang, iseng makan siang dengan si ganteng/si cantik dari kantor sebelah? Atau rencana makan siang sedikit lebih lama di tempat yang sedikit lebih jauh. Mall, barangkali?

  2. Warna Cerah. Anda pasti tahu, warna bisa memberi sugesti. Nah, agar hari Anda terasa lebih bersemangat, coba gunakan baju kerja warna cerah atau warna favorit. Jika ternyata Anda harus mengenakan seragam, alihkan warna tadi pada aksesori seperti sepatu, tas atau pernak-pernik yang lain.

  3. Udara Pagi. Nah, yang ini bisa Anda lakukan saat keluar dari rumah. Rileks! Nikmati udara pagi dengan menarik napas dalam-dalam sambil memjemakan mata. Lalu, tataplah langit pagi yang masih bersih dari polusi. Konon, hal ini dapat mebantu membuang jenuh dan menikmati perjalanan.

  4. Rute Baru. Jalan yang biasa Anda lewati, bikin malas ke kantor? Coba rute lain. Sedikit lebih jauh tidak apa-apa, yang penting Anda mendapatkan pemandangan baru yang menyegarkan. Atau Anda bisa juga menelpon seorang teman (di kantor lain yang searah) dan buat janji berangkat bersama. Lalu, buat janji untuk makan siang di temapt lain dan mampir ke mall sepulang kerja. Mengganti kebiasaan, membuat hidup lebih variatif.

  5. Secangkir Kopi. Masih belum hilang juga rasa mala situ? Belokkan saja arah menuju kantor seorang teman dan mampir sebentar. Belum puas? Arahkan langkah menuju mall (tapi bukan dekat kantor). Menyempatkan diri untuk minum secangkir kopi atau sedikit kudapan sepertinya ide bagus.

  6. Datang Terlambat. Ada sejuta alasan yang biasa Anda pakai untuk datang lebih siang. Alasan ‘ada keperluan keluarga mendadak’ atau diare juga masih boleh dipakai kok. Asal jangan pakai alasan sama berkali-kali. Nanti bos Anda jadi hapal.
>> tipsanda.com <<
Read More... »

Monday, May 9, 2011

Temukan Cinta Anda

Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan. Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Bila toh anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang bisa anda cintai dari kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela.

Apa saja. Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda ada di situ? Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.

by: Ir. Andi Muzaki, SH, MT
Read More... »

Saturday, April 30, 2011

Tips Berjabat Tangan yang Efektif

Berjabat tangan sudah menjadi bagian ritual dunia usaha. Mungkin Anda menganggap tidak terlalu perlu dipikirkan panjang-panjang, tetapi tidak bagi orang yang sedang berjabatan dengan Anda. Sikapnya dalam berjabatan menampilkan sebagian besar kesannya terhadap Anda. Ingatkah Anda bagaimana kesalnya Anda bila berjabatan tangan dengna orang yang memberikan jabatan yang amat lemah lunglai atau sebaliknya, terlalu keras bersemangat.

Jangan sampai Anda dikategorikan sebagai orang yang tidak mengesankan saat berjabat tangan. Berikut ini ada beberapa teknik berjabat tangan.
  1. Tataplah mata lawa bicara Anda saat berjabat tangan dengannya. Tidak ada yang lebih mengacuhkan selain berjabat tangan tanpa tatapan mata. Ini menunjukkan rasa tidak hormat atau tidak tertarik. Dengan menatap lawan bicara saat berjabatan, Anda menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri.
  2. Berjabat-tanganlah dari telapak ke telapak. Jangan berjabatan tangan dengan mempertemukan dari jari ke jari, atau telapak dengan jari. Dengan berjabat-tangan dari telapak ke telapak akan memberikan perasaan bersahabat dan tidak meniggalkan perasaan yang tidak nyaman atau terluka.
  3. Jangan terlalu akrab. Beberapa orang bertindak berlebihan dengan menarik tangan lawan dan secara keras mengayunkan ke atas ke bawah. Jabat tangan semacam ini sama dengan "mulut besar". Bersikaplah percaya diri, jangan membuat orang lain kesal.
  4. Sadarlah akan keterbatasan fisik seseorang. Orang jompo, cacat, atau penderita arthitis mungkin memiliki tulang yang lemah dan keterbatasan gerak. Melukai seseorang saat berjabatan tangan mungkin justru menutup pintu, bukannya membuka pintu hubungan yang baik.
  5. Ingatlah untuk menciptakan jabat tangan yang bermakna. Jika Anda berjabatan tangan lalu dengan segera menarik tangan Anda dan melanjutkan pembicaraan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, maka orang akan menganggapnya sebagai jabatan tangan yang tak berarti dan tidak tulus. Berikan pada lawan Anda beberapa saat untuk menunjukkan perhatian Anda melalui kontak mata atau pembicaraan sebelum Anda menarik tangan Anda. Mereka akan merasa bahwa mereka sedang bertemu dengan orang yang layak.
Sumber: Unknown
Read More... »

Tuesday, April 26, 2011

Tips 11 Jurus Sukses Karir dan Bisnis Ala Sun Tzu

The Art of War bukan sekedar literature militer tapi dianggap sebagai kitab klasik pengembangan diri. Beberapa petikan Sun Tzu, menurut tipsanda.com berikut ini bisa jadi pegangan untuk memenangkan ‘pertempuran’ Anda di tempat kerja:
  1. ”Kenalilah musuh dan kenalilah diri sendiri. Maka Anda bisa berjuang dalam 100 pertempuran tanpa risiko kalah”. Kunci keberhasilan selalu beraawal dari pemahaman diri. Mengetahui siapa diri Anda, apa tujuan hidup Anda, apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan. Musuh dalam hal ini tidak melulu berasal dari luar diri Anda. Musuh yang berasal dari dalam biasanya jauh lebih berbahaya dan sulit dikalahkan. Misalnya sikap sombong, malas, kebiasaan menunda, merasa selalu benar dan bad habit lainnya.
  2. “Gunakan Kekuatan Normal Untuk Bertempur. Gunakan Kekuatan Luar Untuk Meraih Kemenangan”. Daliinya sederhana. Bila Anda ingin dilihat, tampilah menonjol. Cari tahu patokan standar yang berlaku, dan berusahalah melebihinya. Lihat saja di sekitar Anda. Orang yang terpilih untuk menduduki sebuah posisi biasanya karena dianggap memiliki kelebihan. Misal lebih rajin, lebih cerdas, lebih cepat, lebih kuat.
  3. “Kemungkinan meraih kemenangan terletak pada serangan. Umumnya ia menduduki medan pertempuran lebih dulu dan menantikan musuhnya dengan lebih leluasa”. Jadilah pribadi aktif, jangan hanya duduk menunggu. Sementara Anda menunggu, ‘musuh’di luar sana terus bergerak, maka tamatlah Anda. Tak ada salahnya bersikap agresif atau menunjukkan sikap ambisius sekalipun (selagi tidak merugikan orang lain, kenapa tidak?) Jadilah pribadi yang penuh inisiatif. Lemparkan ide-ide kreatif dalam rapat, terlibatla dalam kegiatan di kantor. Jadilah bintang lapangan jangan mau hanya duduk di bangku cadangan.
  4. ”Kecepatan adalah inti perang. Yang dihargai dalam perang adalah kemenangan yang cepat diraih, bukan operasi berkepanjangan”. Bahkan 2500 tahun yang lalu ketika SunTzu mengajarkan teorinya, pentingnya menghargai waktu sudah ditekankan. Apalagi di masa ketika setiap detik dinilai dengan rupiah. Jadi lupakan pepatah alon-alon waton kelakon itu. Untuk meraih keberhasilan, Anda perlu bergerak cepat. Gampangnya bila atasan Anda memerintahkan Anda berjalan, usahakan untuk berlari.
  5. “Tujuan mereka hendaknya mengambil segala yang dikolong langit dalam kondisi utuh lewat keunggulan strategis”.Untuk mencapi target – apapun itu- Anda perlu strategi. Buatlah perencanaan yang baik. Jangan hanya bergantung pada kebetulan atau keberuntungan. Betul, tak selamanya rencana yang baik berakhir dengan happy ending. Tapi setidaknya hal itu, membantu Anda untuk berjalan di jalur yang tepat, focus dan bersikap antisipatif. Untuk bisa merancang strategi yang tepat Anda perlu memiliki visi atau kemampuan untuk melihat inti persoalan dan memiliki pandangan jauh ke depan. Ibarat kendaraan, visi ini akan mengantar Anda menuju harapan-harapan yang mungkin saja pada hari ini terdengar mustahil.
  6. “Kejarlah rancangna-rancangan strategis Anda untuk membuat musuh takjub. Maka Anda bisa merebut kota-kota musuh dan menggulingkan negaranya”. Disini SunTXu mengisyaratkan pentingnya untuk bersikap konsiste. Bila Anda sudah menetapkan target dan menentukan strategi untuk mencapainya, berusahalah konsisten. Jangan mudah dibelokkan. Fokuslah pada apa yang menjadi target dan berupayalah sampai tercapai.
  7. “Mementingkan pertempuran dan merebut lahan dan kota, tetapi gagal emngonsolidasikan prestasi sama saja dengan buang-buang waktudan sumber daya”. Sikap mudah puas acapkali menjadi pengganjal keberhasilan. Baru mendpat sedikit pujian dari atasan, langsung terbang ke langit ke tujuh dan lupa menapak bumi. Pernah dengar pepatah klasik yang bilang “mempertahankan jauh lebih sulit ketimbang merebut”? Atau doktrin militer yang berbunyi : “Penyebab terbesar kekalahan adalah kemenangan”. Ya seperti itulah.
  8. “Ketika serangan elang meremukkan tubuh mangsanya. Itu adalah berkat waktunya. Waktu adalah serupa dengan ditarikanya pelatuk”. Disini Sun Tzu bicara tentang timing atau momentum. Soal pentingnya kepandaian membaca waktu dan sikon. Ketika kantor Anda sedang dilanda kesulitan dan Anda datang dengan ide penghematan, itu tanda bahwa Anda tahu momentum. Atau contoh sederhana, ketika tampang atasan sedang kusut, lalu Anda mengetuk pintunya untuk minta naik gaji, sama saja dengan ‘bunuh diri’.
  9. “Komandan yang andal dalam perang meningkatkan pengaruh moral dan patuh pada hukum. Demikianlah ia berkuasa mengendalikan sukses”. Pengaruh moral di sini sering diasosiasikan dengan integritas. Kesungguhan kerja seseorang bisa dilihat dari integritas pribadi yang ditunjukkan dalam sikap bisa diandalkan, bisa dipercaya dan motivasi untuk berprestasi. Entah sebagai atasan, maupun bawahan. Di masa SMA, dulu Anda mungkin dianggap cool bila berani melanggar aturan. Di duni kerja, wah jangan harap mendapat respek. Yang ada Anda dapat SP alias Surat Pemecatan!
  10. “Adalah urusan seorang jenderal untuk tidak banyak bicara, sehingga lebih dapat menyimak”. Intinya adalah belajarlah menjadi pendengar yang baik. Kalau jenderal saja yang merupakan pimpinan tertinggi peran disarankan untuk lebih banyak mendengar ketimbang bicara, apalagi prajuritnya. Artinya, di posisi manapun –atasan atau bawahan, Anda memang perlu banyak menyimak. Semakin banyak mendengar, makin banyak informasi yang bisa diserap.
  11. “Meraih 100 kemenangan dalam 100 pertempuran bukanlah ketrampilan. Menaklukan musuh tanpa bertempurlah merupakan kesempurnaan tertinggi”. Pertempuran apapun yang Anda hadapi, bersaing dengan rekan kerja untuk sebuah posisi, menghadapi persoalan dengan atasan, apapun, cobalah bermain dengan cantik. Hadapi ‘musuh’ dengan cara elegan. Hindari perbuatan curang, sikut menyikut. Meminjam pepatah lama,’ tak perlu membakar lumbung padi bila hendak mengusir tikus’. Beli saja lem tikus di supermarket, Jauh lebih gampang kan?
>> tipsanda.com <<
Read More... »

Monday, April 25, 2011

Tips Memilih Berkarir di Perusahaan Besar Atau Perusahaan Kecil

Dalam hidup, Anda memang harus memilih. Begitu pula dalam Anda meniti karir. Anda selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Salah satunya, memilih menjadi ikan besar di kolam kecil (baca: jabatan tinggi di perusahaan kecil) atau menjadi ikan kecil di kolam besar (baca: jabatan rendah di perusahaan besar). Atau malah menjadi ikan besar di kolam besar! Yang pasti setiap pilihan pasti memilki konskuensi masing-masing. Sebelum menentukan pilihan hal-hal berikut ini bisa menjadi pertimbangan untung-rugi berkarir di perusahaan besar atau kecil bagi Anda:
  1. Gengsi. Mungkin saat ini Anda bekerja di perusahaan besar yang sudah sangat mapan. Berita baiknya, di mata “pasar” gengsi dan nilai Anda ikut terangkat. Anda bisa memperkenalkan jabatan Anda dengan percaya diri. Begitu juga dalam melakukan negosiasi dengan pihak luar (rekanan, pemasok, klien). Otomatis, bargaining power Anda juga lebih tinggi dibandingkan bila Anda bekerja di sebuah perusahaan kecil. Dalam keadaan seperti ini, Anda boleh berharap, suatu hari nanti akan dibajak perusahaan lain. Atau paling tidak, Anda tidak akan terlalu sulit mencari pekerjaan di temapt lain setelah keluar dari perusahaan tersebut. Sayang, gengsi tinggi belum tentu sejalan dengan gaji yang diterima. Bisa jadi setelah tengok kanan-kiri, ternyata gaji yang Anda terima di perusahaan besar setelah sekian tahun bekerja, lebih kecil daripada teman Anda yang bekerja di perusahaan kecil dengan jabatan serupa. Bila ini menjadi masalah, Anda bisa menjajaki peluang menjadi ikan besar di kolam kecil. Cari saja saat yang tepat. Lalu, coba melamar untuk posisi yang lebih tinggi dengan meminta gaji lebih tinggi pula.
  2. Prosedur Perusahaan. Memang perusahaan besar yang mapan biasanya sudah menerapkan system dan prosedur yang baku dan teruji. Hasil positifnya adalah hak, kewajiban dan tugas setiap karyawan jelas. Anda tinggal menjalani saja dan tidak dituntut untuk menciptakan system baru yang perlu trial dan error lagi. Demikian pula paket kompensasi (gaji, tunjangan dan jaminan lainnya) sudah terstruktur dengan baik dan dibuat mengikuti ketetapan pemerintah. Namun ada negatifnya juga bekerja di perusahaan mapan. Seringkali Anda sulit untuk memelopori suatu perubahan. Bila Anda adalah seorang yang sangat kreatif dan berani mengambil terobosan-terobosan baru, rasanya Anda tidak akan terlalu bisa diakomodir oleh perusahaan semacam ini, kecuali Anda berada di posisi puncak.
  3. Spesialis atau Serabutan. Di perusahaan besar dengan jumlah karyawan ratusan atau bahkan ribuan, setiap karyawan biasanya diarahkan untuk menjadi spesialis (sebagai lawan dari menjadi si serabutan bila Anda bekerja di perusahaan kecil). Itu sebabnya, di perusahaan besar, Anda bisa menjadi sangat terampil di satu bidang tertentu setelah bekerja beberapa tahun. Sementara di perusahaan kecil, kadang Anda dituntut untuk menangani beberapa jenis pekerjaan sehingga Anda bisa terampil dalam beberapa bidang sekaligus (itu pun jika Anda mau belajar banyak hal).
  4. Kompetisi. Di perusahaan kecil, persaingan untuk mendapatkan promosi atau naik jabatan, memang relative lebih mudah. Si good performer akan mudah terlihat, sehingga jalan untuk dipromosikan lebih lapang. Sementara di perusahaan besar lebih berat karena jumlah pesaing lebih banyak. Ini membuat Anda kadang sulit ‘terlihat’. Persaingan ketat pun biasanya akan dibarengi dengan permainan politik I kantor. Nah, jika ada pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Anda mendapat promosi, ia bisa menjegal langkah Anda. Memang untuk menjadi ikan besar di kolam besar, kompetisi saja tidak cukup. Dibutuhkan kematangan berpolitik.
  5. Mutasi. Enaknya bekerja di perusahaan besar adalah terbukanya peluang mutasi ke bagian lain, baik yang diinginkan atau yang tidak. Bila performa Anda tidak begitu baik di suatu departemen, entah karena salah penempatan atau hal lain, Anda bisa dipindahkan ke departemen lain yang lebih sesuai dengan kompetensi Anda. Lalu, bila kair mentok di departemen tertentu karena atasan bergeming dari posisinya, padahal prestasi Anda diakui, peluang untuk dimutasi sekaligus promosi ke jenjang lebih tinggi di departmeen lain, masih terbuka. Dua hal ini jarang terjadi di perusahaan kecil, karena organisasinya memang sederhana. Anda pun tidak punya banyak pilihan.
>> tipsanda.com <<
Read More... »

Saturday, April 16, 2011

Solusi Jika Gaji Anda Kurang

Kecewa dengan gaji yang kecil? Bisa dimaklumi kok. Apalagi jika beban kerja Anda tergolong berat. Tambah kecewa lagi jika ternyata gaji Anda lebih kecil dibanding rekan-rekan Anda yang beban kerjanya justru lebih kecil dibanding dari Anda. Kekecewaan makin menumpuk ketika sadar bahwa masa kerja Anda sudah berlangsung cukup lama. Wajar jika akhirnya Anda patah semangat. Rasanya tak ada gairah lagi Anda bekerja.

lalu apa yang harus Anda lakukan? Jika Anda merasa sudah bekerja secara maksimal, jangan diam saja. Anda punya hak untuk memperjuangkan masalah Anda. Segera pikirkan solusinya. Tapi ingat, lamanya Anda bekerja tidak semata-mata bisa dijadikan patokan untuk penghasilan Anda. Jika Anda tergolong senior dalam masalah 'waktu' tapi prestasi dan kualitas kerja Anda tidak berkembang, wajar jika penghasilan Anda tidak pernah mengalami peningkatan berarti. Lantas bagaimana? Jika Anda bingung, mungkin solusi di bawah ini bisa Anda coba:
  • Bicarakan ketidakpuasan Anda dengan atasan. Cari tahu mengapa hal ini bisa terjadi pada diri Anda. Coba identifikasi apakah penyebabnya dari dalam diri Anda sendiri atau ada sebab-sebab lain di luar diri Anda. Jika penyebabnya dari diri Anda sendiri, misalnya Anda kurang kreatif, kurang kompak dalam teamwork, maka Anda harus bersedia merubahnya. Tetapi jika penyebabnya di luar diri Anda, bicarakan lebih lanjut dengan boss.

  • Buat standar kerja sehingga ada ukuran yang jelas mengenai tingkat keberhasilan Anda. Dengan demikian, Anda mempunyai data dan dokumentasi mengenai tingkat keberhasilan Anda. Hal ini bisa Anda gunakan untuk melakukan negosiasi mengenai besar-kecilnya penghasilan Anda.

  • Jika boss kurang kooperatif dengan masalah Anda, coba bicarakan langsung ke bagian HRD. Konsultasikan masalah ini baik-baik. Sehingga bisa dilakukan review atas penghasilan yang Anda peroleh selama ini dengan beban kerja. Dan Anda boleh saja berharap akan ada penyesuaian gaji.

  • Jika upaya yang telah Anda lakukan tidak membuahkan hasil, Anda boleh mencari tempat yang baru. Yaitu tempat yang standar penghasilannya lebih tinggi dibandingkan tempat kerja Anda sekarang. Tentu saja dengan catatan Anda sudah mempunyai kemampuan yang cukup mengenai pekerjaan yang akan Anda tangani.
Nah, Anda yang kurang puas dengan gaji Anda, coba saja lakukan solusi di atas. Siapa tau ada perkembangan yang menggembirakan. Karena, jika bukan Anda yang memperjuangkan, siapa lagi?

Semoga Anda puas!!
Read More... »

Thursday, April 14, 2011

14 Cara Membuat Bos Anda Shock

  1. Datang ke tempat kerja lebih awal.
  2. Ambillah inisiatif untuk bertanya.
  3. Mintalah nasihat Bos Anda, gunakan nasihat itu, dan ucapkan terima kash kepada Bos karena Anda merasakan manfaat nasihat itu.
  4. Di belakang Bos, bicarakan selalu hal-hal yang baik tentang dia.
  5. Selalu siap untuk bekerja lembur demi menyelesaikan proyek penting.
  6. Kerjakan lebih banyak dari sekedar tugas harian Anda.
  7. Bersedia bekerja di luar hari kerja.
  8. Selalu bekerja keras setiap hari.
  9. Berusaha untuk selalu bertumbuh secara profesional.
  10. Banyak membaca tentang bidang kerja Anda.
  11. Kemukakan ide-ide baru untuk menghemat waktu dan uang perusahaan.
  12. Loyal dan tidak membandingkan perusahaan Anda dengan perusahaan lain.
  13. Selalu mendoakan Bos.
  14. Mengajak Bos beribadah bersama.

DAVID SANFORD
Direktur Penerbitan
Read More... »

Sunday, April 10, 2011

5 Hal yang Bikin Orang Enggan Mendengarkan

KOMPAS.com - Hubungan kerja yang tak hangat boleh jadi dipengaruhi arogansi untuk tidak saling mendengarkan. Komunikasi yang dibangun dalam lingkungan kerja bukan berlandaskan kesantunan, namun lebih kepada komunikasi preman bermakna bossy. Jika posisi Anda di kantor adalah atasan, cobalah untuk lebih mendengarkan bawahan, bukan mendominasi pembicaraan. Sayangnya, tak sedikit karyawan, apapun posisinya, yang cenderung enggan mendengarkan ucapan lawan bicara secara tuntas.

Wahyu Wibowo, penulis dan pelatih komunikasi adab, kultur perusahaan, dan media massa, menyebutkan sejumlah sebab mengapa orang enggan menjadi pendengar yang baik.

1. Tak konsentrasi
Seseorang yang gemar mengobral kata atau cerita di luar topik pembicaraan cenderung memiliki kelemahan dalam berkonsentrasi pada fokus atau topik pembicaraan tertentu. Kelemahan ini secara psikologis dipicu oleh arogansi jabatan, sok pamer pengetahuan, atau tidak ingin terlihat bodoh di depan orang lain. Sikap seperti inilah yang membuat orang lain enggan, malas, bosan, bahkan jijik mendengar ucapan kita.

2. Terlalu percaya diri
Kepercayaan diri yang terlalu tinggi membuat seseorang cenderung terlalu sering memotong, mengomentari, atau mengkritik lawan bicara. Sejumlah wakil rakyat di DPR bisa menjadi contoh nyata sikap ini. Mereka seringkali melakukan interupsi yang berkesan tak nyambung dengan pokok persoalan, bahkan menjadikannya ajang pamer diri. Kalau sudah seperti ini, orang tersebut cenderung hanya bicara tanpa mau mendengar orang lain.

3. Sibuk
Kesibukan kadangkala membuat kehadiran seseorang sebagai gangguan. Akhirnya, saat terlibat dalam pembicaraan, orang yang sibuk ini hanya mengambil kata kunci dari lawan bicara dengan mendengarkan seadanya. Akhirnya informasi menjadi bias dan tak seimbang, karena perhatian tak sepenuhnya tercurah pada lawan bicara.

4. Tak cukup data
Sering kali pula, akibat ketidaklengkapan data, kita merasa tidak yakin dengan apa yang kita katakan. Akibatnya komunikasi yang kita bangun menjadi ingar alias tidak nyambung. Hal ini diakibatkan lawan bicara kita sama sekali tidak berpeluang untuk bertanya, apalagi membuat catatan dan mengevaluasinya. Kalau sudah seperti ini, jangan harap kata-kata yang Anda umbar memiliki nilai informatif bagi lawan bicara.

5. Pengaruh suasana hati

Lawan bicara bisa saja enggan mendengarkan ucapan Anda karena ia sedang stres, atau suasana hati tak senang. Ketidaksukaan lawan bicara bisa dilihat dari bahasa tubuhnya seperti memainkan jari berulang, mimik wajah yang kusut, atau pandangan mata yang mengarah ke sana ke mari.

Sumber: Buku Membangun Kultur Perusahaan Melalui Kesadaran Komunikasi Adab, Wahyu Wibowo (Gramedia Pustaka Utama)

>> kompas.com <<
Read More... »
 
Designed by Productive Dreams
Copyright© [ z3r0 phr34k ]